MULYOTO
Kemarin (Jumat, 8 Mei) saya menjadi narasumber dalam pelatihan LPIR bagi siswa SMP se-Kota Mojokerto di SMP Negeri 5. Pesertanya adalah para siswa anggota tim LPIR SMP di Kota Mojokerto.
Bagi saya, ini adalah pertama kali. Biasanya, saya hanya membimbing sekelompok siswa dari suatu sekolah. Tapi senang juga. Peserta nampaknya sudah siap dengan konsep karya tulis masing-masing.
Satu prinsip saya, menulis -termasuk karya tulis penelitian- adalah kerja praktik. Saya tidak boleh terlalu banyak berteori. Saya hanya memantapkan semangat para peserta, lalu mencoba memberikan trik-trik praktis cara melaksanakan penelitian. Kemudian justru para peserta yang saya minta mempresentasikan konsep metah karya tulisnya. Di sinilah para siswa terlibat aktif.
Menurut drh. Wiwiek Herwiningtyas, guru SMP TNH yang menggagas acara ini, kegiatan ini dilaksanakan dalam mempersiapkan anak-anak Mojokerto dalam ajang bergengsi LPIR yang digelar Depdiknas. "Selama ini, Kota Mojokerto belum banyak berbicara dalam event bergengsi ini," ungkapnya.
Melalui pembinaan yang terarah dari Dinas P dan K Kota Mojokerto, diharapkan, nantinya ada beberapa siswa yang masuk final di Jakarta.
Kegiatan ini juga berlanjut dengan pembinaan lanjutan dan presentasi karya tulis untuk menetapkan tiga juara tingkat kota.
"Sebagai motivasi, tiga besar peserta di tingkat kota nanti juga akan mendapat hadiah. Tapi semua peserta dikirim ke panitia LPIR Jakarta," kata Bu Wiwiek.
Jumat, 08 Mei 2009
Minggu, 04 Januari 2009
Emang, Guru Itu Burung
MULYOTO
Saya sangat bangga kalau ada anak didik saya, siswa saya atau orang yang saya kenal menulis dan dimuat di media massa. Saya akan membaca tulisan itu dan selalu memberi apresiasi positif. Minimal, saya akan menegur dan mengucapkan selamat. Bagi saya, keberhasilan menulis di media massa menunjukkan semangat untuk menjadi seorang penulis.
Kali ini, saya perlu angkat topi yang setinggi-tingginya pada anak-anak SMA Al-Multazam, yang telah menulis di Radar Mojokerto pada Rubrik Koran Sekolah. Tulisan itu enak dibaca. Terasa mengalir dan sangat ringan. Isinya adalah tentang sosok guru yang bagaimana yang diinginkan oleh siswa. Yaitu guru yang tidak ngebosenin, yang metodenya variatif dan menyenangkan. Siswa tidak suka terhadap guru yang hanya monoton dan (maaf) ngoceh doang.
Maka, tulisan feature cenderung opini itu pun berjudul: "Guru Ngoceh Terus, Bosen Ah!!!". Saya geli, agak kaget, dan sedkit was-was membaca judul ini. Kalo guru bisa ngoceh, emang guru itu burung, ya?
Saya was-was kalo ada guru yang tersinggung. Apapun yang dilakukan guru, apa pun metodenya, bagaimana pun performansinya, niatnya hanya satu anakku: ingin anak-anaknya mendapatkan ilmu yang diajarkannya. Jadi, mustahil, ada guru yang pantas disamakan dengan burung.
"Ah, ini kan bahasa jurnalistik. Judul yang provokatif dan terkesan menghina itu mungkin dibuat oleh redaksi koran, tanpa ada maksud menghina guru," itulah kata hati saya menghibur diri. Dan saya yakin, tidak ada siswa saya yang dengan sengaja melakukan penghinaan atas gurunya. Semoga saja seperti itu
Sekali lagi, guru akan merasa senang menyerahkan segenap ilmunya kalau siswa memang membutuhkan, tapi guru akan merasa berat untuk berjalan ke sekolah ketika membayangkan ana-anak didiknya akan cuek dan mengacuhkannya. Kita semua paham, guru manusia biasa, tapi bukan burung yang bisa ngoceh!
Tetap semangat!
Saya sangat bangga kalau ada anak didik saya, siswa saya atau orang yang saya kenal menulis dan dimuat di media massa. Saya akan membaca tulisan itu dan selalu memberi apresiasi positif. Minimal, saya akan menegur dan mengucapkan selamat. Bagi saya, keberhasilan menulis di media massa menunjukkan semangat untuk menjadi seorang penulis.
Kali ini, saya perlu angkat topi yang setinggi-tingginya pada anak-anak SMA Al-Multazam, yang telah menulis di Radar Mojokerto pada Rubrik Koran Sekolah. Tulisan itu enak dibaca. Terasa mengalir dan sangat ringan. Isinya adalah tentang sosok guru yang bagaimana yang diinginkan oleh siswa. Yaitu guru yang tidak ngebosenin, yang metodenya variatif dan menyenangkan. Siswa tidak suka terhadap guru yang hanya monoton dan (maaf) ngoceh doang.
Maka, tulisan feature cenderung opini itu pun berjudul: "Guru Ngoceh Terus, Bosen Ah!!!". Saya geli, agak kaget, dan sedkit was-was membaca judul ini. Kalo guru bisa ngoceh, emang guru itu burung, ya?
Saya was-was kalo ada guru yang tersinggung. Apapun yang dilakukan guru, apa pun metodenya, bagaimana pun performansinya, niatnya hanya satu anakku: ingin anak-anaknya mendapatkan ilmu yang diajarkannya. Jadi, mustahil, ada guru yang pantas disamakan dengan burung.
"Ah, ini kan bahasa jurnalistik. Judul yang provokatif dan terkesan menghina itu mungkin dibuat oleh redaksi koran, tanpa ada maksud menghina guru," itulah kata hati saya menghibur diri. Dan saya yakin, tidak ada siswa saya yang dengan sengaja melakukan penghinaan atas gurunya. Semoga saja seperti itu
Sekali lagi, guru akan merasa senang menyerahkan segenap ilmunya kalau siswa memang membutuhkan, tapi guru akan merasa berat untuk berjalan ke sekolah ketika membayangkan ana-anak didiknya akan cuek dan mengacuhkannya. Kita semua paham, guru manusia biasa, tapi bukan burung yang bisa ngoceh!
Tetap semangat!
Rabu, 24 Desember 2008
Olimpiade Fisika tingkat nasional untuk SMA
Ada info menarik bagi siswa SMA sederajat dari ITS. Yaitu Olimpiade Fisika tingkat Nasional 2009. Info lengkapnya klik di sini: http://www.its.ac.id/pengumuman/poster%20pekan%20fisika_.jpg
Ikut ya!
Ikut ya!
Kamis, 04 Desember 2008
Sepotong Surat dari Porong

MULYOTO
Surat ini kutujukan buat siapa saja yang masih mampu mendengar
Detak jantungnya sendiri
Mampu mendengar tembang lirih dari relung hati
Kami anak-anak Jatirejo, Renokenango, Siring, dan desa-desa yang
Kena luberan lumpur panas
Apa salah kami hingga sekolah, rumah dan tempat bermain kami tenggelam
Apa salah kami,
Pagi-pagi kami melihat semuanya lenyap
Tinggal bayang-bayang kenangan yang bikin kami hilang
Apa salah kami?
Hingga burung-burung gagak berputar-putar
Di atas desa kami
Dengan suaranya yang serak?
Sedang kami hanya mampu melihatnya dengan penuh tanda tanya
Sepotong surat ini,
Kukirim buat Bapak Presiden
Yang terhormat
Mohon kiranya berkenan
Memberi solusi
Atas apa yang menimpa kami
Kami anak-anak adalah generasi sah negeri ini
Yang berhak hidup layak
Tidak seperti di pengungsian yang kotor dan lembab
Bapak Presiden,
Lihatlah, demi cinta kami kepada Bapak,
Kami tidak rela foto bapak tenggelam juga dalam lumpur
Bapak juga mencintai kami, bukan?
Kami adalah anak-anak pemilik sah negeri ini
Mengembangkan Pariwisata Ramah Lingkungan di Pacet
Oleh Mariatul Qibthiyah
Siswi Kelas X SMA Al-Multazam
Pacet, merupakan salah satu daerah di Mojokerto yang terkenal dengan pariwisata ramah lingkungan. Antara lain Taman Ubalan, Pemandian Air Panas, dan Air Terjun Coban Canggu. Tidak hanya objek pariwisata itu saja, tetapi pemandangan dan suasana alamnya yang sejuk dan asri membuat orang tertarik untuk mengunjunginya.
Memang, tempat wisata itu cocok buat refreshing, penghilang rasa jenuh, atau seringkali sebagai tempat berkemah dan outbond bagi para pelajar.
Tapi, kini ketertarikan pengunjung terhadap objek wisata pacet menurun. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam tersebut.
Ubalan, salah satunya. Objek pariwisata tersebut memang dulunya penuh dengan wisatawan. Tapi, sekarang pengunjung pada hari biasa hanya berkisar sebanyak 10-50 orang per hari.
Yang menyebabkan berkurangnya pengunjung adalah wahana permainan yang berkurang dan tidak terawatnya pemandangan. Seperti kolam renang yang kotor dan permainan air yang banyak rusak. Begitu pun Air Terjun Coban Canggu yang sekarang menjadi salah fungsi. Objek pariwisata ini kebanyakan dipenuhi oleh pemuda-pemudi yang berpacaran atau pun berhubungan seks.
Ditambah lagi dengan penebangan pohon secara liar dan pembakaran hutan yang menyebabkan hutan menjadi gundul. Memang, penebangan pohon bertujuan untuk membuka lahan baru untuk pembangunan villa. Tetapi dengan adanya seperti itu malah membuat paru-paru dunia menjadi tak berfungsi karena tidak diadakan reboisasi atau tebang pilih.
Akibatnya terjadilah berbagai bencana alam karena daya resap air pada pohon berkapasitas kecil. Seperti longsor yang terjadi sekitar 5 tahun silam yang memakan banyak korban. Tidak cukup sampai di situ, tetapi juga mengakibatkan banjir lumpur yang meluap sampai daerah Sooko dan sekitarnya.
Untuk itu, pemerintah seharusnya turut campur tangan dengan adanya masalah seperti ini. Tetapi, masyarakat juga harus turut terlibat dalam melestarikan lingkungan hidup.
Pemerintah sebenarnya mempunyai banyak program tentang pengembangan wisata di Mojokerto. Pemandian Air Panas misalnya, kini pemerintah berusaha dengan maksimal untuk memperbaiki wanawisata tersebut pasca longsor.
Selain itu, pemerintah juga mempunyai rencana untuk membangun “Jatim Park 3” di Desa Cembor, Pacet. Yang lebih mengutamakan nilai natural alamnya dan ditambah dengan wahana permainan seperti Jatim Park lainnya.
Ini merupakan berita hangat bagi masyarakat Mojokerto sendiri karena apabila program tersebut terlaksakan, maka akan membawakan pendapatan yang sangat besar sekaligus memperkenalkan Mojokerto kepada masyarakat luar bahwa Mojokerto merupakan kota pariwisata.
Ada juga rencana pembangunan wisata air bernama Arung Jeram sepanjang 2-3 km di aliran Kali Kromong. Sungguh menarik bukan ? Tetapi, semua rencana itu masih dalam tahap “Pembuatan Proposal”.
Memang banyak sekali kendala-kendala dalam pembangunan pariwisata tersebut. Antara lain memerlukan dana yang cukup besar dan Sumber Daya Manusia yang kurang mendukung.
Alangkah baiknya apabila terdapat “Kelompok Sadar Wisata” yang menarik kesadaran masyarakat terhadap Pariwisata Hijau Pacet. Seperti aktivitas ramah tamah terhadap wisatawan lokal dan asing, penjualan bahan makanan yang higienis, perawatan kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam.
Dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah dan kesadaran masyarakat akan mendukung terwujudnya pembangunan pariwisata ramah lingkungan. “Sadar wargaku, lestari alamku”.
Siswi Kelas X SMA Al-Multazam
Pacet, merupakan salah satu daerah di Mojokerto yang terkenal dengan pariwisata ramah lingkungan. Antara lain Taman Ubalan, Pemandian Air Panas, dan Air Terjun Coban Canggu. Tidak hanya objek pariwisata itu saja, tetapi pemandangan dan suasana alamnya yang sejuk dan asri membuat orang tertarik untuk mengunjunginya.
Memang, tempat wisata itu cocok buat refreshing, penghilang rasa jenuh, atau seringkali sebagai tempat berkemah dan outbond bagi para pelajar.
Tapi, kini ketertarikan pengunjung terhadap objek wisata pacet menurun. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam tersebut.
Ubalan, salah satunya. Objek pariwisata tersebut memang dulunya penuh dengan wisatawan. Tapi, sekarang pengunjung pada hari biasa hanya berkisar sebanyak 10-50 orang per hari.
Yang menyebabkan berkurangnya pengunjung adalah wahana permainan yang berkurang dan tidak terawatnya pemandangan. Seperti kolam renang yang kotor dan permainan air yang banyak rusak. Begitu pun Air Terjun Coban Canggu yang sekarang menjadi salah fungsi. Objek pariwisata ini kebanyakan dipenuhi oleh pemuda-pemudi yang berpacaran atau pun berhubungan seks.
Ditambah lagi dengan penebangan pohon secara liar dan pembakaran hutan yang menyebabkan hutan menjadi gundul. Memang, penebangan pohon bertujuan untuk membuka lahan baru untuk pembangunan villa. Tetapi dengan adanya seperti itu malah membuat paru-paru dunia menjadi tak berfungsi karena tidak diadakan reboisasi atau tebang pilih.
Akibatnya terjadilah berbagai bencana alam karena daya resap air pada pohon berkapasitas kecil. Seperti longsor yang terjadi sekitar 5 tahun silam yang memakan banyak korban. Tidak cukup sampai di situ, tetapi juga mengakibatkan banjir lumpur yang meluap sampai daerah Sooko dan sekitarnya.
Untuk itu, pemerintah seharusnya turut campur tangan dengan adanya masalah seperti ini. Tetapi, masyarakat juga harus turut terlibat dalam melestarikan lingkungan hidup.
Pemerintah sebenarnya mempunyai banyak program tentang pengembangan wisata di Mojokerto. Pemandian Air Panas misalnya, kini pemerintah berusaha dengan maksimal untuk memperbaiki wanawisata tersebut pasca longsor.
Selain itu, pemerintah juga mempunyai rencana untuk membangun “Jatim Park 3” di Desa Cembor, Pacet. Yang lebih mengutamakan nilai natural alamnya dan ditambah dengan wahana permainan seperti Jatim Park lainnya.
Ini merupakan berita hangat bagi masyarakat Mojokerto sendiri karena apabila program tersebut terlaksakan, maka akan membawakan pendapatan yang sangat besar sekaligus memperkenalkan Mojokerto kepada masyarakat luar bahwa Mojokerto merupakan kota pariwisata.
Ada juga rencana pembangunan wisata air bernama Arung Jeram sepanjang 2-3 km di aliran Kali Kromong. Sungguh menarik bukan ? Tetapi, semua rencana itu masih dalam tahap “Pembuatan Proposal”.
Memang banyak sekali kendala-kendala dalam pembangunan pariwisata tersebut. Antara lain memerlukan dana yang cukup besar dan Sumber Daya Manusia yang kurang mendukung.
Alangkah baiknya apabila terdapat “Kelompok Sadar Wisata” yang menarik kesadaran masyarakat terhadap Pariwisata Hijau Pacet. Seperti aktivitas ramah tamah terhadap wisatawan lokal dan asing, penjualan bahan makanan yang higienis, perawatan kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam.
Dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah dan kesadaran masyarakat akan mendukung terwujudnya pembangunan pariwisata ramah lingkungan. “Sadar wargaku, lestari alamku”.
Langgan:
Entri (Atom)

